Minggu

Halaqah-25 Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘Alaihimussalam

 

Halaqah-25 Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘Alaihimussalam

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Ke-25 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam

Diantara Buah Beriman kepada Para Rasul ‘alayhimussalam

① Seseorang jadi mengetahui rahmat Allah dan perhatian Allah yang besar terhadap hamba-hambaNya dengan cara mengutus para Rasul kepada mereka supaya memberikan petunjuk kepada mereka dan menjelaskan kepada mereka tentang beribadah kepada Allah dan bagaimana cara beribadah kepada Allah, karena akal manusia tidak bisa berdiri sendiri tanpa wahyu dari Allah ‘Azza wa jalla

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan atas mereka ayat-ayatNya dan membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah dan sungguh mereka sebelumnya berada di dalam kesesatan yang nyata” (Ali ‘Imran : 164)

② Bersyukur kepada Allah atas nikmat diutusnya para Rasul ‘alayhimussalam

③ Mencintai para Rasul ‘alayhimussalam menghormati mereka, memuji mereka sesuai dengan kedudukan mereka karena mereka adalah para utusan Allah, para hamba-hamba Allah yang beribadah kepada Allah sekaligus menyampaikan risalah Allah dan menasihati para hamba Allah, Allah berfirman

إِنَّآ أَرۡسَلۡنَـٰكَ شَـٰهِدً۬ا وَمُبَشِّرً۬ا وَنَذِيرً۬ا (٨) لِّتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُڪۡرَةً۬ وَأَصِيلاً (٩

“Sesungguhnya kami telah mengutusmu sebagai seorang saksi memberikan kabar gembira dan memberikan peringatan, supaya kalian beriman kepada Allah dan juga RasulNya dan supaya kalian menolong dia dan menghormati dia” (Al-Fath : 8-9)

④ Mengetahui kekuasaan Allah dan bagaimana Allah memilih para Nabi danRasul.
⑤ Mengetahui bahwa beriman dengan mereka adalah sebab kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
⑥ Mengetahui bahwa berpegang teguh dengan apa yang di bawa oleh para Rasul عَلَيهِ السَّلَامُ adalah sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah dan sebab di ampuni dosanya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah terakhir dari Silsilah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam

Kita berdoa kepada Allah ‘Azza wa jalla semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menjadikan kita termasuk orang-orang yang beriman dan meninggal dunia diatas keimanan dan sampai bertemu kembali pada Silsilah ilmiah berikutnya yaitu Silsilah Beriman Dengan Takdir.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-24 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 22

 

Halaqah-24 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 22

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Ke-24 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang ke 22

Diantara cara beriman kepada para rasul alayhimussalam adalah mengetahui beberapa persamaan antara Nabi dan Rasul. Mereka semua adalah manusia Laki-laki dan Merdeka

Mereka adalah manusia maksudnya adalah bukan dari kalangan Jin dan bukan dari kalangan Malaikat. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا

”Dan tidaklah menghalangi manusia untuk beriman ketika datang kepada mereka petunjuk kecuali ucapan mereka, apakah Allah mengutus seorang manusia sebagai seorang Rasul” (Al-Isra : 94)

Dan Allah mengatakan

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ

”Dan Kami telah memberikan Ishak dan juga Ya’qub kepada Ibrahim dan kami jadikan kenabian dan kitab didalam keturunannya… “ (Al-Ankabut : 27)

Di dalam ayat ini Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengabarkan bahwasanya kenabian ada pada keturunan Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ dan keturunan Nabi Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ adalah keturunan dari kalangan manusia bukan dari jin dan bukan dari malaikat

Dan mereka (yaitu para Nabi dan Rasul) adalah dari kalangan laki-laki dan bukan dari kalangan wanita, Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ

”Dan tidaklah kami mengutus sebelummu para Rasul kecuali mereka adalah laki-laki yang Kami wahyukan kepada mereka diantara penduduk negeri… “ (Yusuf : 109)

Dan mereka adalah orang-orang yang merdeka dan bukan budak karena perbudakan adalah sifat yang tidak sesuai dengan kedudukan Nabi dan waktu seorang budak adalah sepenuhnya bagi tuannya, maka kapan dia berdakwah dan menghadapi lawan-lawannya. Adapun yang terjadi pada Nabi Yusuf عَلَيهِ السَّلَامُ ketika beliau menjadi budak bagi salah seorang bangsawan di Mesir, maka asalnya Yusuf adalah orang yang merdeka, kemudian saudara-saudaranya yang telah menipu daya beliau adapun sabda Rasulullah ﷺ

مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ

Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali mengembala kambing (HR Al-Bukhari)

Maka para Nabi tersebut bukan mengembala karena dia seorang budak akan tetapi mengembala kambingnya sendiri atau mengembala kambing milik orang lain dengan dibayar, sebagaimana Rasulullah ﷺ mengembala untuk penduduk Makkah (HR Al-Bukhari)

Dan Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ mengembala untuk seorang laki-laki yang shaleh dari madyan., sebagaimana di dalam Al Qashas : 27

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-23 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 21

 

Halaqah-23 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 21

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Ke-23 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke-21

Setelah kita memahami mukjizat, Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah dan hal-hal yang berkaitan dengannya maka kita lanjutkan poin-poin tentang tata cara beriman kepada para rasul.

Diantara tata cara beriman dengan para rasul ‘alayhimussalam adalah beriman dengan nama-nama para nabi dan rasul yang Allah telah sebutkan namanya didalam Alquran mereka berjumlah 25 orang, 18 Diantaranya disebutkan berturut-turut didalam surat Al An’am dan 7 orang berpisah-pisah didalam surat -surat yang lain.

18 nama didalam surat Al An’am adalah

1. Ibrahim
2. Ishaq
3. Ya’qub
4. Nuh
5. Daud
6. Sulaiman
7. Ayyub
8. Yusuf
9. Musa
10. Harun
11. Zakariya
12. Yahya
13. ‘Isa
14. Ilyas
15. Ismail
16. Al Yasa’
17. Yunus
18. Luth ‘Alayhimussalam lihat surat Al An’am : 83-86

Adapun 7 orang yang lain maka mereka adalaا

1. Nabi Adam,
dua puluh lima kali disebutkan nama Nabi Adam di dalam Al-Quran, yang pertama di dalam surat Al-Baqarah : 31

2. Nabi Idris,
Disebutkan dua kali didalam Al-Quran dalam surat Maryam : 56 dan Al-Anbiya’: 85

3. Nabi Dzulkifli,
Dua kali disebutkan didalam surat Al-Anbiya’: 85 dan surat Shod : 48

4. Nabi Hud,
Tujuh kali disebutkan, yang pertama di dalam surat Al-A’raf : 65

5. Nabi Shaleh,
Sembilan kali disebutkan yang pertama di dalam surat Al A’raf : 73

6. Nabi Syuaib,
Sepuluh Kali disebutkan, yang pertama didalam surat Al A’raf : 85

7 Nabi Muhammad ﷺ,
Empat kali disebutkan, yang pertama di dalam surat Ali Imran : 144

Kemudian diantara beriman dengan para Rasul ‘alayhimussalam adalah meyakini adanya kekhususan Nabi Muhammad ﷺ dibandingkan dengan Nabi-nabi yang lain dan diantaranya

① Beliau diutus untuk segenap Manusia dan Jin. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

“Katakanlah wahai Muhammad, wahai manusia sesungguhnya aku adalah Rasulullãh untuk kalian semuanya” (Al-A’raf : 158)

Dan Nabi ﷺ bersabda

وكان النبي يبعث إلى قومه خاصة وبعثت إلى الناس كافة

Dan dahulu para Nabi diutus kepada kaumnya secara khusus dan diutus aku untuk manusia semuanya (HR Bukhari)

Dan beliau ﷺ diutus kepada Jin sebagaimana kisah yang Allah sebutkan di dalam surat Al-Jin

② Allah telah menjadikan beliau sebagai Nabi yang terakhir.

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ…

“Tidaklah Muhammad bapak salah seorang diantara laki-laki kalian akan tetapi dia adalah Rasulullãh dan penutup para Nabi” (Al-Ahzab: 40)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda

كانتْ بنو إسرائيلَ تسوسُهمُ الأنبياءُ ، كلَّما هلَكَ نبيٌّ خلَفَهُ نَبِيٌّ ، وإِنَّه لا نَبِي بعدِي ،…

“Dahulu Bani Israel dipimpin oleh para Nabi, setiap kali meninggal seorang Nabi akan digantikan Nabi yang lain dan sesungguhnya tidak ada Nabi setelahku” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-22 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 20

 

Halaqah-22 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 20

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Ke-22 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke-20
diantara perbedaan antara Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah

④ Al Karamah menambah keimanan, ketakwaan dan kerendahan hati pada pemiliknya, sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah menambah kekufuran dan kejauhan dari Allah ‘Azza wa jalla

Di dalam kitab Hilyatul Auliya Abu Nu’aim rahimahullah membawakan dengan sanadnya kisah Abu Muslim Al-Khaulani seorang yang shaleh, dengan Al-Aswad Al-Amsyi orang yang mengaku menjadi Nabi berkata Syarah bil Al-Khaulani ketika Al-Aswad bin qais bin dil himar Al-Amsyi di Yaman muncul dipanggilah Abu Muslim maka Al-Amsyi berkata “apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah? ”

berkata Abu muslim “Iya”

kembali Al-Amsyi bertanya

“apakah engkau bahwa aku adalah Rasulullah? ”

berkata Abu muslim “aku tidak mendengar”

Maka di nyalakanlah api yang besar kemudian di lemparkan Abu Muslim kedalam api tersebut, tetapi beliau tidak termudharati, maka penduduk kerajaan Al-Aswad Al-Amsyi berkata kepadanya apabila engkau biarkan Abu Muslim berada di negerimu maka dia akan merusak urusanmu, usirlah dia maka Abu Muslim pun datang ke kota Madinah dan saat itu Rasulullah ﷺ sudah wafat dan digantikan Abu Bakar, kemudian Abu Muslim menambatkan untanya dipintu masjid Nabawi kemudian shalat menuju salah satu tiang diantara tiang-tiang Masjid

Maka Umar bin khaththab melihatnya dan mendatanginya dan berkata “dari mana asal mu”

Abu Muslim mengatakan : ” dari Yaman ”

Berkata Umar “apa yang dilakukan musuh-musuh Allah terhadap saudara kita yang dibakar dan tidak mempan”

Abu Muslim berkata: “itu adalah Abdullah Ibn tsaub”

Berkata Umar: “aku meminta dengan Nama Allah apakah dia adalah dirimu? ”

berkata Abu muslim: “Iya”

Berkata syarah bil maka Umar antara kedua mata Abu Muslim kemudian membawanya dan mendudukannya antara Abu Bakar dan Umar

Berkata Umar Ibn Khaththab ”segala puji bagi Allah yang belum mematikanku dari dunia sehingga memperlihatkan kepada diriku diantara umat Muhammad orang yang dibakar seperti dibakarnya Nabi Ibrahim kekasih Allah”

Lihatlah bagaimana ucapan Abu Muslim ketika ditanya oleh Umar Ibn khaththab beliau berusaha untuk menutupi identitas beliau dan mengatakan “itu adalah Abdullah bin tsaub” seakan-akan orang tersebut bukan dirinya.

⑤ Al-Karamah digunakan untuk sesuatu kebaikan atau perkara yang diperbolehkan sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah digunakan untuk perkara yang diharamkan seperti menyakiti orang lain atau menyombongkan diri dan lain-lain

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-21 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 19

 

Halaqah-21 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 19

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Ke-21 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke-19

Diantara hal yang perlu diketahui seorang muslim adalah perbedaan Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah, karena sering terjadi seseorang menganggap Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah sebagai Al-Karamah, menganggap seorang wali syaithan sebagai wali Allah.

Berikut adalah perbedaan antara Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah (semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan taufiq kepada kita semua dan menerangi diri kita dengan ilmu agama, diantara perbedaan antara Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah

① Melihat perjalanan hidup orang tersebut, kalau dia adalah seorang mukmin yang bertakwa maka ini adalah Al-Karamah dan kalau sebaliknya dia bukan seorang yang mu’min dan bukan orang yang bertakwa maka itu adalah Al Ahwal Asy-Syaithaniyyah.

Berkata syaikh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah

وشرط كونها كرامةً أن يكون من جرت على يده هذه الكرامةُ مستقيمًا على الإيمان ومتابعة الشريعة فإن كان خلاف ذلك فالجاري على يده من الخوارق يكون من الأحوال الشيطانية 1:49

“Dan sesuatu yang luar biasa menjadi karamah di syaratkan orang yang mendapatkan karamah tersebut adalah orang yang istiqamah diatas iman dan mengikuti syariat, adapun apabila sebaliknya maka sesuatu yang luar biasa yang terjadi pada dirinya adalah termasuk Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah

② Al-Karamah adalah anugerah dari Allah tidak bisa dipelajari dan diusahakan sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah adalah bantuan dari syaithan bisa dipelajari dan diusahakan yaitu dengan berbuat sesuatu yang membuat ridha syaithan, seperti berbuat kufur kepada Allah (meninggalkan shalat dan kewajiban-kewajiban yang lain) menghalalkan sesuatu yang yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan lain-lain. Oleh karena itu Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah memiliki sekolah-sekolah perguruan-perguruan untuk mempelajari perkara-perkara yang luar biasa tersebut dan disana ada buku-buku yang dijual bebas yang mengajarkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah yang dikenal dengan Al-Mujarrabat

③ Al-Karamah tidak bisa di lawan sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah bisa di lawan dengan beberapa dzikir dan doa didalam Al-Quran dan As-Sunnah

Berkata Syaikhul Islam rahimahullah

وهكذا أهل الأحوال الشيطانية تنصرف عنهم شياطينهم إذا ذكر عندهم ما يطردها مثل آية الكرسي 4.11

Dan demikianlah orang-orang yang memiliki Ahwal Asy-Syaithaniyyah (syaithan-syaithan) mereka akan meninggalkan mereka apabila disebutkan disamping mereka apa yang mengusir syaithan-syaithan tersebut seperti ayat kursi

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-20 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 18

 

Halaqah-20 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 18

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Ke-20 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke delapan belas.

Disana ada perbedaan antara Al-Mu’jizah dengan Al-Karamah

① Al-Mu’jizah disertai dengan pengakuan sebagai seorang Nabi, sedangkan Al-Karamah tidak disertai dengan pengakuan sebagai seorang Nabi, tetapi terjadi Al-Karamah dengan sebab dia mengikuti dan beriman dengan Nabi dan istiqamah diatasnya

② Al-Mu’jizah terjadi pada seorang Nabi dan Nabi adalah manusia laki-laki yang merdeka sedangkan Al-Karamah bisa terjadi bisa terjadi pada seorang jin atau manusia, hamba sahaya atau orang yang merdeka, seorang laki-laki atau pun perempuan. Kalau mereka adalah orang-orang yang shaleh seperti yang terjadi pada Maryam dan juga Safinah maula Rasulullah ﷺ

③ Al Mu’jizah sesuatu yang luar biasa disemua tempat dan masa, sedangkan Al-Karamah adalah sesuatu yang luar biasa di tempat dan juga masa tertentu saja, sedangkan Al-Karamah adalah sesuatu yang luar biasa menurut tempat dan masa tertentu saja. Oleh karena itu apa yang terjadi Maryam ‘alayhassalam berupa ditemukannya makanan musim panas dimusim dingin dan sebaliknya adalah sesuatu yang biasa di zaman sekarang

④ Didalam Al-Mu’jizah seorang Nabi diperintahkan untuk menampakkan nya sedangkan Al-Karamah maka seorang wali diperintahkan untuk menyembunyikannya

⑤ Manfaat Al Mu’jizah adalah untuk umum sedangkan manfaat Al-Karamah biasanya untuk khusus orang tersebut

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-19 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 17

 

Halaqah-19 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 17

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Ke-19 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke ujuh belas 17

Setelah kita mengetahui tentang Al-Karamah yang Allāh berikan kepada wali-Nya, maka hendaklah kita mengenal tentang Al Ahwal Asy-syaithaniyyah (keadaan-syaithan-syaitan).

Al-Ahwal Asy-syaithoniyyah/keadaan-keadaan syaitan adalah perkara-perkara yang di luar kebiasaan yang terjadi pada seorang wali syaitan sebagai Istidraj

Wali syaitan adalah pengikut syaitan dan penolong syaitan. yang dimaksud dengan Istidraj adalah dibiarkan supaya bertambah kekufurannya kemudian di azab

Dan di antara dalil yang menunjukkan adanya wali-wali syaithan adalah firman Allah :

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan orang-orang yang kafir, maka wali-walinya adalah thagut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan, mereka adalah penduduk Neraka, mereka kekal di dalamnya” (Al-Baqarah : 257)

Dan Allah berfirman:

… وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ…

“Dan sesungguhnya syaithan-syaithan mewahyukan kepada wali-walinya untuk mendebat kalian” (Al-An’am : 121)

Dan diantara contoh Al-Ahwal Asy-syaithaniyyah, apa yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah didalam kitab beliau Al-Furqan ( بين أولياء الرحمن و أولياء الشيطان )

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan didalam kitab ini diantara contoh Al-Ahwal syaitoniyyah

① Apa yang terjadi pada Musaiylamah Al-Kadzab ketika dia mengaku sebagai seorang Nabi dia mengabarkan beberapa perkara yang ghaib wahyu dengan dari syaitan

② Apa yang terjadi pada Al-Aswad Al-Amsiy yang mengaku sebagai Nabi mengabarkan tentang perkara yang ghaib dengan wahyu dari syaitan sehingga tentara kaum muslimin takut syaithan akan mengabarkan kepadanya tentang mereka, sampai tentara kaum muslimin takut apabila syaithan akan mengabarkan kepada Aswad Al-Amsiy tentang mereka

③ Kisah Al-Haris Al-Dimasykiy yang mengaku sebagai Nabi di zaman Abdul Malik bin Marwan setiap kali di tangkap dan di penjara datang syaitan dan melepaskan ikatan di kaki nya dan melindungi dia dari senjata.

Manusia saat itu melihat rombongannya berjalan diudara ketika dia ditangkap ada orang yang menikam nya dengan tombak namun tidak mempan

Maka berkata Abdul Malik :

“Engkau tidak menyebut nama Allah”

Kemudian ketika dia menyebut nama Allah dan menikamnya mempanlah tombaknya dan meninggal lah Al-Harits

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-18 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 16

 

Halaqah-18 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 16

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Ke -18 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke enam belas.

Diantara dalil dari As-Sunnah atas adanya Al-Karamah

① Kisah Abu bakar Asy Sidik radhiyallahu ‘anhu ketika memberi makan sebagian ahlu suffah yang datang kepada beliau, setiap kali mereka mengambil satu suapan maka makanannya bertambah banyak di riwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim

② Kisah dua orang shahabat Nabi ﷺ, yaitu ‘Usaid bin Hudhair dan Abbad bin Bisr semoga Allah meridhai keduanya, ketika keduanya keluar dari sisi Nabi ﷺ, di suatu malam yang gelap gulita dan di depan mereka ada cahaya, kemudian ketika mereka berpisah terbagilah cahaya tersebut menjadi dua. diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhâri

③ Kisah Juraij seorang laki-laki yang shaleh dari kalangan bani israil yang dituduh berzina dengan seorang wanita ia mengaku hamil karena Juraij, kemudian ketika wanita tersebut melahirkan maka Juraij mengusap kepala bayi tersebut, sehingga bayi tersebut sehingga bayi tersebut bisa menyebutkan siapa bapaknya. di riwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim

Kemudian di sana ada beberapa keterangan yang berkaitan dengan Al-Karamah

① Al-Karamah yang paling agung bagi seorang hamba adalah istiqamahnya dia diatas jalan yang lurus
② Al-Karamah bagi para wali Allah adalah ayat (Mu’jizah) bagi para Nabi,

karena wali Allah tidak mendapatkannya kecuali karena keimanan dia kepada rasul tersebut
③ Al-Karamah akan tetap ada sampai akhir zaman
④ Al-Karamah tidak dijadikan ukuran seseorang lebih afdhal daripada orang yang tidak mendapatkan Al Karomah

Yang demikian karena Al-Karamah terjadi di antaranya untuk menguatkan keimanan orang tersebut, oleh karena itu Al-Karamah di zaman shahabat radhiyallahu ‘anhum lebih sedikit daripada Al-Karamah di zaman Tabi’in, karena iman dan keyakinan para sahabat lebih kuat dari pada keimanan dan juga keyakinan para Tabi’in

⑤ Jangan sampai seseorang terjerumus kedalam pengingkaran terhadap Al-Karamah

seperti orang-orang falasifah dan juga Mu’tazilah dan jangan sampai seseorang berlebih-lebihan didalam masalah Al-Karamah seperti orang-yang yang menjadikan Al-Karamah sebagai ukuran kewalian

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
image_pdfimage_print

Halaqah-17 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 15

 

Halaqah-17 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 15

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-17 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alaihimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Kelima Belas.

Meyakini adanya Al-Karamah adalah termasuk pokok aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Berkata Syaikhul Islam rahimahullah didalam kitab beliau Al Aqidah Al Washithiyah

وَمِنْ أُصُولِ أَهْلِ السُّنَّةِ: التَّصْدِيقُ بِكَرَامَاتِ الْأَوْلِيَاءِ, وَمَا يُجْرِي اللهُ عَلَى أَيْدِيهِمْ مِنْ خَوَارِقِ الْعَادَاتِ

”Termasuk pokok-pokok Ahlus Sunnah adalah membenarkan Karamah para wali dan perkara – perkara diluar kebiasaan yang Allah jalankan pada diri mereka”

Keyakinan dengan adanya Al-Karamah berdasarkan dalil-dalil dari Al-Quran, As-Sunnah dan juga Ijma’

Adapun dari Al-Quran

① Kisah Maryam dengan Nabi Zakaria علَيهِ السَّلَامُ

Dimana Nabi Zakaria علَيهِ السَّلَامُ adalah orang yang menanggung makanan bagi Maryam, yang telah mengkhususkan dirinya untuk beribadah kepada Allah, namun sesuatu yang luar biasa setiap kali Zakaria memasuki mihrab Maryam dia mendapatkan makanan

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Setiap kali Zakaria memasuki Mihrab Maryam beliau mendapatkan di sisi Maryam rezeki, Zakaria berkata “Wahai Maryam dari mana engkau mendapatkan makanan ini?” Maryam menjawab “ini adalah dari sisi Allah, sesungguhnya Allah memberikan rejeki kepada siapa yang di kehendaki tanpa perhitungan” (Ali ‘Imran : 37)

Ibnu Katsir menyebutkan di dalam tafsirnya, bahwa Nabi Zakaria علَيهِ السَّلَامُ menemukan didalam mihrab Maryam buah-buahan musim dingin ketika musim panas dan buah-buahan musim panas ketika musim dingin

② Kisah Ashabul Kahfi yang Allah sebutkan di awal-awal surat Al-Kahfi ketika mereka tidur dalam waktu yang lama tanpa memakan makanan dan tidak rusak badan mereka.

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

”Dan mereka tinggal di gua mereka selama 300 tahun dan tambah 9 tahun” (Al-Kahfi : 25)

Ada yang mengatakan 300 tahun bila dihitung dengan tahun syamsiah dan 309 tahun bila dihitung dengan tahun Qamariah

③ Istri Fir’aun yang bernama Asiyah Allah memperlihatkan rumah Asiyah di dalam surga ketika sedang di adzab oleh Fir’aun

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Dan Allah telah membuat permisalan bagi orang-orang yang beriman dengan istri fir’aun ketika dia berkata “Wahai Rabbku bangunkanlah aku di sisiMu rumah di dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan amalannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzhalim” (At-Tahrim : 11)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_pdfimage_print

Halaqah-25 Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘Alaihimussalam

  Halaqah-25 Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘Alaihimussalam  Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى   Beriman Kepada Para Rasul Al...