Selasa

Halaqah 27 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Nama Allāh Al-‘Alim Dan Sifat Ilmu Bagi Allāh ﷻ Bag 02 QS Al-Anam 59, Al-Fathir 11, dan At-Thalaq 12

 

Halaqah 27 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Nama Allāh Al-‘Alim Dan Sifat Ilmu Bagi Allāh ﷻ Bag 02 QS Al-Anam 59, Al-Fathir 11, dan At-Thalaq 12

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah
🖊 Ilmiyyah.com
〰〰〰〰〰〰〰

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-27 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Beliau mendatangkan beberapa ayat yang isinya adalah penetapan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ

Didalam ayat yang lain yaitu surat Al-An’am, Allāh ﷻ mengatakan

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ

Dan di sisi-Nya ada kunci-kunci ilmu ghoib, ada yang mengartikan kunci-kunci di sini adalah khozā’in yaitu perbendaharaan ilmu ghoib itu di sisi Allāh ﷻ.

لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ

Tidak mengetahuinya kecuali Allāh ﷻ. Disebutkan dalam sebuah hadits tentang makna مَفَاتِحُ الْغَيْبِ, Nabi ﷺ mengatakan

مِفْتَاحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ اللَّهُ

Kunci-kunci ilmu ghoib itu ada lima, tidak mengetahuinya kecuali Allāh ﷻ. Haditsnya Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari.

لاَ يَعْلَمُ مَا تَغِيضُ الأَرْحَامُ إِلاَّ اللَّهُ

Tidak ada yang mengetahui apa yang dikandung oleh rahim kecuali Allāh ﷻ, yaitu yang mengetahui dia kelak akan menjadi seorang laki-laki atau wanita dan seterusnya, tidak ada yang mengetahui yang demikian kecuali Allāh ﷻ, ini sebelum Allāh ﷻ mengabarkan kepada malaikat, setelah Allāh ﷻ mengabarkan kepada malaikat dia laki-laki atau perempuan maka ini tidak lagi menjadi ilmu ghoib karena sudah diberitahukan oleh Allāh ﷻ kepada malaikat sehingga bisa diketahui laki-laki atau wanita setelah berapa bulan, yaitu kalau sudah diketahui berarti ini bukan lagi ilmu ghoib tapi sebelumnya tidak ada yang bisa mengetahui.

وَلاَ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلاَّ اللَّهُ

Dan tidak mengetahui apa yang terjadi besok kecuali Allāh ﷻ.

Dukun tidak tahu, tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang kecuali Allāh ﷻ, bahkan dusta setiap orang yang mengaku mengetahui ilmu yang ghoib, para peramal para dukun yang dengan berbagai cara mereka menipu manusia.

وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي الْمَطَرُ أَحَدٌ إِلاَّ اللَّهُ

Tidak mengetahui kapan akan datang hujan seorangpun kecuali Allāh ﷻ. Dengan ilmu yang yakin di atas keyakinan besok akan terjadi hujan, yang mengetahui hanya Allāh ﷻ saja, kalau kita hanya memperkirakan, disana ada mendung itu kita hanya memperkirakan saja adapun ilmu yang pasti yang mengetahui Allāh ﷻ.

وَلاَ تَدْرِي نَفْسٌ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِلاَّ اللَّهُ

Sebuah jiwa tidak mengetahui kapan dia meninggal dunia kecuali Allāh ﷻ, dimana dia meninggal dunia kecuali Allāh ﷻ

وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ اللَّهُ

Dan tidak mengetahui kapan terjadinya As-Sa’ah (tiupan sangkakala yang pertama) kecuali Allāh ﷻ.
Ini adalah مَفَاتِحُ الْغَيْبِ lima perkara yang merupakan kunci ilmu ghoib, tidak mengetahuinya kecuali Allāh ﷻ. Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ

Dan Allāh ﷻ Dia-lah yang mengetahui apa yang ada di darat maupun yang ada di lautan. Yang ada di darat seluruhnya Allāh ﷻ Maha Mengetahui, tentang diri kita, tentang makhluk yang lain, pohon, hewan dan apa yang ada di dalam daratan maka Allāh ﷻ Maha Mengetahui, dan apa yang ada di lautan dengan berbagai jenis ikannya dan benda-benda yang ada di dalamnya, kapal-kapal yang karam dan seluruh makhluk hidup dan makhluk yang mati di sana Allāh ﷻ Maha Mengetahui.

Dia-lah Allāh ﷻ yang mengetahui segala sesuatu apa yang terjadi di lautan, mungkin di sana ada peninggalan-peninggalan Firaun yang dikisahkan dalam Al-Qur’an tenggelamnya dia di dalam laut, dan kapal-kapal yang besar yang mereka tenggelam dan tidak diketahui kabarnya, Allāh ﷻ Maha Mengetahui apa yang terjadi di dalam sana, Dia-lah Allāh ﷻ Yang Maha Mengetahui segala sesuatu di darat maupun di laut.

وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا

Dan tidaklah jatuh sebuah daun kecuali Allāh ﷻ mengetahui, Subhanallāh, jatuhnya daun misalnya di malam hari dan kalau kita hitung berapa jumlah daun yang ada dibumi, satu persatu jatuhnya dia Allāh ﷻ Maha Mengetahui, kapan jatuhnya, karena sebab apa karena angin atau karena digoyang oleh orang, di mana dia jatuhnya, bagaimana dia jatuhnya itu tidak lepas dari ilmu Allāh ﷻ. Kalau yang demikian saja Allāh ﷻ mengetahui lalu bagaimana dengan yang perkara-perkara yang lain.

وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ

Dan tidak pula biji-bijian yang ada dalam kegelapan-kegelapan bumi. Karena cahaya tidak sampai ke dalam sana tapi biji-bijian yang ada di sana Allāh ﷻ Maha Mengetahui, dan kita tidak melihat ternyata mungkin di bawah rumah kita ada biji ini, ternyata di sana ada biji ini, di bawah bumi itu banyak biji-bijian, mungkin terbawa air, mungkin di bawah burung atau dilempar oleh seseorang, bentuknya kecil tapi Allāh ﷻ Maha Mengetahui, ketika turun hujan tertimpa air kemudian Allāh ﷻ menghendaki dia untuk tumbuh.

وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِين

Dan tidak ada sesuatu yang basah ataupun yang kering kecuali itu semuanya ada dalam kitab yang jelas, yaitu dalam lauh al-mahfudz. Bagaimana seseorang ragu bahwasanya Allāh ﷻ memiliki ilmu yang Maha Sempurna. Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنثَى وَلا تَضَعُ إِلاَّ بِعِلْمِه

Dan tidaklah seorang wanita mengandung dan tidak melahirkan kecuali dengan ilmu Allāh ﷻ. Mengandung sebabnya apa, berapa lama dia mengandung, apa yang terjadi dalam perutnya dan ketika melahirkan juga demikian kapan dia akan lahir, Allāh ﷻ yang menentukan Allāh ﷻ Yang Maha Mengetahui, dimana dia akan melahirkan Allāh ﷻ yang juga mengetahui tidak ada yang luput dari ilmu Allāh ﷻ. Kemudian ayat yang terakhir

وَقَوْلُهُ: لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Supaya kalian mengetahui bahwa Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu dan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang ilmunya meliputi segala sesuatu. Ini Allāh ﷻ sebutkan setelah Allāh ﷻ menyebutkan tentang penciptaan Allāh ﷻ terhadap tujuh langit dan juga bumi, Allāh ﷻ mengatakan

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّ
[At-Talaq:12]

Allāh ﷻ Dia-lah yang menciptakan tujuh langit dan bumi yang semisalnya, ada yang mengatakan bumi juga tujuh,

يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ

Perintah Allāh ﷻ turun antara langit dan bumi, yaitu Allāh ﷻ mewahyukan kepada seorang nabi seorang rasul

لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Supaya kalian mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu. Yaitu Allāh ﷻ menciptakan diantara faedahnya supaya kita paham, supaya kita mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu.

Jadi tidak ada keputusasaan pada diri seorang muslim tidak ada putus asa terhadap rahmat Allāh ﷻ Dia-lah yang untuk mampu melakukan segala sesuatu, Dia-lah yang bisa menghilangkan dari kita bala’ dalam sekejap dalam sedetik atau kurang dari sedetik Allāh ﷻ Maha Mampu untuk melakukan segalanya, senantiasa ada dalam diri seorang muslim harapan, keluar dari berbagai problem baik problem pekerjaan atau rumah tangga, Allāh ﷻ mampu untuk menolong dia dan melakukan apa yang kita minta dari Allāh ﷻ.

وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Dan supaya kita mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Kalau kita memperhatikan ciptaan Allāh ﷻ langit maupun bumi dan bagaimana itqannya (detailnya) Allāh ﷻ menciptakan ciptaan tersebut, di sini kita mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ ilmunya adalah sangat-sangat luas dan sangat detail, berarti ayat ini juga menunjukkan kepada kita bahwa Allāh ﷻ memiliki sifat ilmu, yaitu dalam Firman-Nya

وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Dan bahwasanya ilmu Allāh ﷻ ini meliputi segala sesuatu.

Disana ada aliran atau orang yang menyimpang dalam masalah penetapan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ dan ayat-ayat ini membantah itu semua, seperti misalnya orang-orang qadariyah yang mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ tidak mengetahui sesuatu kecuali setelah terjadinya, ini adalah keyakinan yang menyimpang dan jelas ini bertentangan dengan firman-firman Allāh ﷻ yang sudah disebutkan oleh Syaikhul Islam sebagiannya dalam kitab ini. Dia mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ tidak mengetahui kecuali setelah terjadinya, padahal Allāh ﷻ mengatakan

وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Dan dalam ayat kursiy

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

Allāh ﷻ mengetahui apa yang sudah berlalu dan apa yang akan terjadi, maka ini menunjukkan tentang kesempurnaan ilmu Allāh ﷻ, tidak seperti yang di yakini oleh sebagian firoq dhollah (aliran yang sesat), ini semua karena mereka tidak kembali kepada Al-Qur’an dan juga hadits dengan pemahaman para salaf, dan mereka kembali kepada akal-akal mereka sendiri sehingga terjatuhlah mereka ke dalam kesesatan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_print

Halaqah 26 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Nama Allāh Al-‘Alim Dan Sifat Ilmu Bagi Allāh ﷻ Bag 02 QS At-Tahrim Ayat 2 dan 3

 

Halaqah 26 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Nama Allāh Al-‘Alim Dan Sifat Ilmu Bagi Allāh ﷻ Bag 02 QS At-Tahrim Ayat 2 dan 3

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah
🖊 Ilmiyyah.com
〰〰〰〰〰〰〰

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-26 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Beliau mendatangkan beberapa ayat yang isinya adalah penetapan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ

وَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ

Dan juga nama Allāh ﷻ

وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Dan Dia-lah Allāh ﷻ Yang Maha Mengetahui lagi Maha Al-Hakim. Syahidnya disini adalah وَهُوَ الْعَلِيمُ dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui. Nama Allāh Al-‘Alim kita tetapkan dan mengandung sifat Al-‘Ilmu, Al-Hakim, Dia-lah yang Maha Al-Hakim bisa diartikan Maha Bijaksana bisa diartikan Maha Menghukum dan bisa juga diartikan Maha Kokoh, kokoh dalam menciptakan dalam mensyariatkan.

Kenapa kita katakan di sini bisa diartikan macam-macam, karena Al-Hakim ini adalah nama Allāh ﷻ yang mengandung minimal tiga sifat, pertama adalah mengandung sifat Al-Hikmah (bijaksana), Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Mengetahui dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana, kemudian yang kedua mengandung sifat Al-Hukum, Dia-lah yang menghukumi, kemudian yang ketiga sifatnya adalah sifat Al-Ihkam yang artinya adalah itsqan yaitu kokoh dan teliti, sempurna, kuat. Berarti ada tiga sifat yaitu Al Hikmah, Al Hukum, dengan Al-Ihkam.

Hikmah yaitu Allāh ﷻ Maha Bijaksana, maksud bijaksana adalah meletakkan sesuatu pas pada tempatnya, tidak ada yang meleset, tidak ada yang kurang. Allāh ﷻ itu hikmah dan Maha Bijaksana baik dalam syariat-Nya maupun dalam penciptaan. Dalam syariat-Nya, yaitu di dalam Al-Qur’an atau di dalam Sunnah, syariat yang ada dalam agama Islam ini penuh dengan hikmah. Kalau Allāh ﷻ mensyariatkan sesuatu yakin pasti di sana ada hikmahnya, Allāh ﷻ Maha Bijaksana. Kenapa shalat lima kali, kenapa salat dzuhur setelah tergelincirnya matahari, kenapa maghrib setelah terbenamnya matahari, yakin di situ ada hikmanya. Kenapa kita disyariatkan untuk puasa Syawal, kenapa ada syariat puasa tiga hari setiap bulan, kenapa disana rawatib, kita yakin bahwasanya di dalam setiap apa yang disyariatkan oleh Allāh ﷻ pasti di sana ada hikmanya, kebaikan kembali untuk diri kita sendiri baik di dalam apa yang Allāh ﷻ perintahkan maupun apa yang Allāh ﷻ larang. Allāh ﷻ melarang untuk berzina Allāh ﷻ melarang untuk melihat sesuatu yang diharamkan maka pasti di sana ada hikmahnya.

Dan ditahun-tahun terakhir ini banyak penelitian misalnya tentang akibat seseorang melihat sesuatu yang diharamkan, melihat sesuatu yang membangkitkan syahwat padahal itu adalah perkara yang diharamkan. Bagaimana itu pengaruhnya terhadap otak seseorang, disana ada hormon tertentu yang akan keluar ketika seseorang melihat perkara yang diharamkan, tetapi ketika itu berlebih-lebihan akhirnya akan banjir hormon tersebut yang akhirnya akan mempengaruhi daya pikir seseorang, menjadi orang yang bodoh, menjadi orang yang tidak bisa berpikir, susah untuk menghafal dan lain-lain.

Berarti secara syariat dilarang oleh Allāh ﷻ dan secara ilmiah dan ini menunjukkan hikmah Allāh ﷻ, ketahuilah bahwasanya dalam syariat yang lain ini juga demikian. Kenapa seorang wanita diperintahkan untuk menutup seluruh tubuhnya, pasti disana ada hikmahnya, ada yang mengatakan bahwasanya kulit wanita ini berbeda dengan kulit laki-laki, dia mudah terkena mudhorot ketika terkena matahari secara langsung berbeda dengan kulit laki-laki misalnya, jadi di sana ada maslahat tersendiri bagi kita.
Seorang muslim meskipun dia tidak tahu tentang hikmah tadi maka dia beriman, melaksanakan apa yang Allāh ﷻ perintahkan dan meninggalkan apa yang Allāh ﷻ larang dengan hati yang tenang dan yakin itu adalah untuk kebaikan ana sendiri. Orang yang menjalani syariat ini maka dia akan hidup dengan nyaman, hidup dengan sehat.

Hikmah di dalam syariat dan juga hikmah di dalam penciptaan. Ketika Allāh ﷻ menciptakan maka itu semuanya dengan penuh perhitungan, berdasarkan ilmu, Allāh ﷻ menciptakan kita sebagai manusia sudah dengan ilmu dan dengan perhitungan yang sangat matang yang sangat bijaksana, Dia-lah yang menciptakan kita fī aḥsani taqwīm, dengan bentuk yang sangat indah, tangan yang proporsional, kakinya juga demikian, posisinya juga luar biasa, di taruh posisi tangan di sini supaya kita lebih leluasa untuk melakukan berbagai pekerjaan kita, diberikan kita dua tangan bukan satu tangan, diberikan tangan ini jari-jemari yang dengannya kita bisa memegang banyak hal, diberikan kita gigi dan gigi nya bermacam-macam ada yang fungsinya untuk mengunyah ada yang fungsinya untuk mencabik, disana ada lidah yang digunakan untuk menggerakkan makanan ke kanan dan juga kekiri, di sana ada zat yang bisa mematikan kuman, disana ada yang melembutkan, disana ada yang menyerap, disana ada yang mengedarkan, Subhanallāh, Dia-lah Allāh ﷻ Yang Maha Bijaksana.

Siapa yang menciptakan yang demikian selain Allāh ﷻ, Dia-lah Al-Hakim Dia-lah Yang Maha Bijaksana dalam penciptaan. Siang dan juga malam di bolak balik oleh Allāh ﷻ, hikmah yang sangat dalam, penciptaan langit, penciptaan bumi, bagi orang yang memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allāh ﷻ ini maka dia akan mendapatkan bagaimana Allāh ﷻ Dia-lah yang Al-Hakim Dia-lah Yang Maha Bijaksana baik di dalam syariatnya maupun dalam penciptaannya.

Dan Allāh ﷻ Dia-lah yang menghukumi baik hukum syar’I, Allāh ﷻ menurunkan hukum-hukum-Nya didalam syariat, maka Allāh ﷻ Dia-lah Al-Hakim yang menurunkan hukum syar’i maupun hukum yang kauni, Allāh ﷻ yang menciptakan. Demikian pula Al-Ihkam, diantara sifat yang terkandung dalam Al-Hakim adalah Al-Ihkam yaitu kokoh, kokoh dalam syariat maupun kokoh dalam penciptaan maka Allāh ﷻ Dia-lah Al Hakim Yang Maha Bijaksana Yang Maha Menurunkan Hukum, Dia-lah Yang Mutkin dalam hukum-Nya.

Ayat yang selanjutnya adalah firman Allāh ﷻ

الْعَلِيمُ الْخَبِير

Dia-lah Yang Maha Mengetahui dan Dia-lah Al-Khobir, syahidnya di sini adalah Al-‘Alim, Allāh ﷻ menetapkan dalam ayat ini nama Allāh Al-‘Alim ini adalah syahidnya, ditambah lagi dengan Al-Khabir.

Ayat yang sebelumnya Al-‘Alim Al-Hakim, hubungan antara hikmah dengan ilmu yang namanya hikmah ini berdasarkan ilmu, seseorang bisa meletakkan sesuatu pada tempatnya kalau dia memiliki ilmu, adapun orang yang jahil maka dia ngawur dalam meletakkan sesuatu. Kalau kita memang ingin bijaksana, menjadi orang yang bijaksana maka hendaklah kita menuntut ilmu agama, menuntut ilmu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah maka kita akan menjadi orang yang bijaksana adapun orang yang tidak memiliki ilmu maka bagaimana dia akan menjadi orang yang bijaksana.

الْعَلِيمُ الْخَبِير

Hubungan antara Al-’Alim dengan Al-Khabir, Al-Khabir mengandung sifat khibrah artinya pengalaman dalam bahasa kita, yang dimaksud dengan khibrah dalam bahasa Arab adalah ilmu yang sempurna dan ilmu yang mendalam, yang teliti, itu dinamakan dengan khibrah, khibrah ini adalah kesempurnaan ilmu dan juga ketelitian ilmu tadi. Berarti di sini ada ada makna yang za’id (tambahan), bukan hanya sekedar ilmu tapi kesempurnaan ilmu dan juga ketelitian ilmu.

Makanya antara tahu dengan berpengalaman ini lebih dalam berpengalaman. Dia pengalaman artinya sudah bertahun-tahun dan sudah mengetahui luar dalamnya, ini pengalaman. Allāh ﷻ Dia-lah Al-Alimul Khobir, sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendatangkan dua ayat ini untuk menguatkan bahwasanya diantara nama Allāh ﷻ adalah Al-’Alim dan diantara sifat Allāh ﷻ adalah Al-‘Ilmu.

Kemudian beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ dalam surat Saba’

يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا

Allāh ﷻ Dia-lah Al-’Alim dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Dia-lah Al-Khabir Yang Maha Mengetahui perkara dalam sampai yang sedetail-detailnya, Dia-lah Al-Bathin yang mengetahui seluruh perkara sedalam-dalamnya, maka di sana ada ayat yang memperinci ilmu Allāh ﷻ diantaranya adalah surah Saba ini, untuk menunjukkan kepada kita tentang bagaimana kesempurnaan ilmu Allāh ﷻ

يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأَرْضِ

Allāh ﷻ mengetahui setiap apa yang masuk ke dalam bumi, yaliju artinya adalah yadkhulu, Allāh ﷻ mengetahui setiap yang masuk kedalam bumi. Disana ada benda-benda, makhluk-makhluk yang masuk ke dalam bumi, semut misalnya, cacing misalnya di atas kemudian dia masuk ke sarangnya, atau air yang turun dari atas masuk ke dalam bumi juga atau orang yang meninggal dunia dikuburkan ke dalam bumi, seluruh perkara atau seluruh benda seluruh makhluk yang masuk ke dalam bumi Allāh ﷻ يَعْلَم, Allāh ﷻ Maha Mengetahui, tidak ada yang masuk ke dalam bumi kecuali Allāh ﷻ tahu apa yang masuk dalam bumi tadi. مَا disini menunjukkan umumnya, apa saja, tidak mungkin masuk ke dalam bumi sesuatu yang tidak diketahui oleh Allāh ﷻ

وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا

Dan Allāh ﷻ mengetahui apa yang keluar dari bumi. Air keluar dari bumi, barang tambang misalnya keluar dari bumi, minyak bumi, emas misalnya, tumbuh-tumbuhan, tanam-tanaman keluar dari bumi, Allāh ﷻ Maha Mengetahui, apa yang keluar dari bumi itu di bawah Ilmu Allāh ﷻ. Tumbuhnya tunas misalnya keluar dari bumi Allāh ﷻ Maha Mengetahui, keluarnya setetes air atau sedikit air dari bumi Allāh ﷻ Maha Mengetahui, itu dibawah ilmu Allāh ﷻ, keluarnya minyak bumi itu adalah dengan ilmu Allāh ﷻ, keluarnya lahar misalnya dari gunung berapi maka itu Allāh ﷻ Maha Mengetahui, tidak ada yang luput dari ilmu Allāh ﷻ, yang masuk ke dalam bumi yang keluar dari bumi, Allāh ﷻ Maha Mengetahui.

وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاء

Dan apa yang turun dari langit, kalau tadi Allāh ﷻ bicara tentang bumi sekarang bicara tentang langit, makhluk Allāh ﷻ yang sangat besar. Yang turun darinya Allāh ﷻ mengetahui, seperti malaikat Jibril yang datang dari atas menyampaikan wahyu pada seorang nabi atau malaikat-malaikat sebagaimana yang Allāh ﷻ sebutkan dalam surat Al Qadr. Atau yang datang dari atas, مِنَ السَّمَاء di sini juga bisa diartikan dari atas, seperti misalnya hujan, maka Allāh ﷻ Maha Mengetahui apa yang turun berapa kubik dan di mana dia akan turun dan kapan turunnya Allāh ﷻ Maha Mengetahui.

وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا

Dan apa yang naik ke atas, baik itu malaikat-malaikat yang Allāh ﷻ tugaskan, karena setiap hari ada malaikat-malaikat yang bergantian naik turun, dan di sana ada amalan-amalan yang naik ke atas disampaikan kepada Allāh ﷻ, maka Allāh ﷻ Maha Mengetahui apa yang turun dari atas maupun yang naik ke atas tidak ada yang samar bagi Allāh ﷻ. Tidak mungkin ada yang naik dan tidak mungkin ada yang turun dan itu tidak diketahui oleh Allāh ﷻ, semuanya dengan ilmu Allāh ﷻ, ini menunjukkan bagaimana Allāh ﷻ Maha Mengetahui segala sesuatu, ini menunjukkan kesempurnaan ilmu Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_print

Halaqah 25 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Nama Allāh Al-‘Alim Dan Sifat Ilmu Bagi Allāh ﷻ Bag 01 QS Al-Hadid Ayat 3 (2)

 

Halaqah 25 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Nama Allāh Al-‘Alim Dan Sifat Ilmu Bagi Allāh ﷻ Bag 01 QS Al-Hadid Ayat 3 (2)

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah
🖊 Ilmiyyah.com
〰〰〰〰〰〰〰

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-25 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Allāh ﷻ mengatakan

وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم

Dan Dia-lah yang dengan segala sesuatu Maha Mengetahui, dan disini syahid وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Segala sesuatu mencakup apa saja, segala sesuatu yang terjadi di masa lalu, yang sekarang, di masa yang akan datang, semuanya masuk dalam بِكُلِّ شَيْء segala sesuatu. Segala sesuatu baik yang ada dibumi maupun apa yang ada dilangit, segala sesuatu baik yang berkaitan dengan dzat makhluk-Nya maupun perbuatan-perbuatan mereka.

بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم

Allāh ﷻ Maha Mengetahui segala sesuatu. Dari sini kita mengetahui tentang kesempurnaan ilmu Allāh ﷻ. Apakah makhluk memiliki ilmu? Na’am ilmu juga merupakan sifat makhluk. Allāh ﷻ menyebutkan dalam Al-Qur’an menyifati sebagian nabi-Nya bi ghulamin ‘alim (seorang anak yang mengetahui), makhluk juga memiliki sifat Ilm.

Apakah ketika kita menetapkan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ berarti kita menyamakan Allāh ﷻ dengan makhluk? Nyatanya tidak. Ilmu Allāh ﷻ adalah ilmu yang Maha Sempurna seperti tadi kesempurnaannya, segala sesuatu diketahui Allāh ﷻ yang telah berlalu maupun yang akan datang. Kalau ilmu kita ilmu yang sangat terbatas.

وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
[Al-Isra’:85]

Tidaklah kalian diberikan dari ilmu ini kecuali sangat sedikit. Silakan Antum membaca buku sebanyak-banyaknya, belajar sebanyak-banyaknya, berapa sih yang kita dapatkan dari ilmu. Ilmu Allāh ﷻ adalah ilmu yang sangat luas. Berarti ketika seseorang menetapkan sifat bagi Allāh ﷻ, bukan berarti dia menyamakan dengan makhluk, ilmu Allāh ﷻ adalah ilmu yang Maha Sempurna, tidak didahului dengan kebodohan seperti kita dan tidak diakhiri dengan lupa atau hilang ingatan, itu ilmu Allāh ﷻ tidak didahului oleh kebodohan, beda dengan ilmu kita.

وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا
[An-Nahl:78]

Allāh ﷻ mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu kalian dalam keadaan kalian tidak mengetahui sesuatu. Setelah itu kita besar kemudian kita belajar dan banyak perkara yang kita ketahui, ketika kita sudah tua ada diantara kita yang sudah mulai berubah, sebelumnya dia tahu dan hafal nama anak-anaknya, sekarang ditanya ini siapa dia tidak tahu. Kemarin dia mahir dalam matematika sekarang dia satu tambah satu saja tidak bisa, itulah ilmu manusia.

Allāh ﷻ Dia-lah yang بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم Dia-lah yang Maha mengetahui segala sesuatu. Kalau demikian maka kita meminta ilmu kepada Allāh ﷻ, Dia-lah yang mengetahui segala sesuatu dan Allāh ﷻ memuliakan orang-orang yang berilmu, maka kita meminta sebagian dari ilmu Allāh ﷻ, meminta ilmu kepada Allāh ﷻ, Dia-lah yang mengajarkan kita.

Dalam sebuah hadits Nabi ﷺ berdoa kepada Allāh ﷻ untuk Abdullah ibn Abbas

اللّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

Ya Allāh ﷻ jadikan dia paham tentang agamanya dan ajarkan kepada dia ilmu tafsir. Karena Allāh ﷻ Dia-lah yang yufaqqih dan Dia-lah yang yu’allim.

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ

Barangsiapa yang Allāh ﷻ kehendaki kebaikan maka Allāh ﷻ akan menjadikan dia paham tentang agamanya. Dan Allāh ﷻ mengatakan

وَعَلَّمَكَ مَا لَمۡ تَكُن تَعۡلَمُۚ
[An-Nisa’:113]

Dan Allāh ﷻ mengajarkan kepadamu apa yang engkau tidak tahu. Dan Allāh ﷻ mengatakan

عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
[Al-’Alaq:5]

Dia-lah yang mengajarkan manusia sesuatu yang dia tidak tahu sebelumnya.

Mintalah kepada Allāh ﷻ, Dia-lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, mintalah kepada Allāh ﷻ ilmu yang Allāh ﷻ berikan kepada para ulama kita. Sehingga sebagian salaf dahulu atau sebagian ulama seperti Ibnu Hajar, ketika dia mengetahui bagaimana luasnya ilmu yang Allāh ﷻ berikan kepada Al-Imam Adz-Dzahabi beliau berdoa kepada Allāh ﷻ minta supaya diberikan ilmunya Al-Imam Adz-Dzahabi karena dia tahu bahwasanya yang memberikan ilmu kepada Adz-Dzahabi adalah Allāh ﷻ.

Maka ini adalah pemahaman bagi kita, ketika kita melihat, takjub, masya Allāh syekh fulan syekh fulan memiliki ilmu luar biasa, kembali kita kepada Allāh ﷻ, ya Allāh ﷻ ajarkan kepadaku ilmu agama sebagaimana engkau berikan kepada misalnya Syaikhul Islam kepada Adz-Dzahabi, Ibnu Hajar. Sebagian kita mungkin tidak sampai ke situ dia memikirkan, dia mengatakan masyaAllāh ﷻ syekh fulan demikian dan demikian tidak sampai kepada merendahkan diri kepada Allāh ﷻ untuk mendapatkan ilmu agama ini.

Maka ini adalah ayat yang pertama, menunjukkan kepada kita tentang, pertama penetapan nama Al-Awwal, Al-Akhir, Adz-Dzhohir, Al-Bathin dan juga nama Allāh ﷻ Al-’Alim. Kemudian kandungan sifatnya di sini Al-Awaliyah, Al-Akhiriyah, Adz-Dzhohiriya, Al-Bathiniya dan sifat Al-’Ilmu.

Sebagian mengatakan هُوَ الأَوَّل disini adalah mubtada’ dan juga khobar, khobarnya disini ma’rifah, mubtada’nya juga ma’rifah, jelas, maka kalau sama-sama ma’rifah seperti ini menunjukkan kekhususan, artinya nama Allāh Al-Awwal, Al-Akhir, Adz-Dzhohir, Al-Bathin ini khusus bagi Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_print

Halaqah 24 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Nama Allāh Al-‘Alim Dan Sifat Ilmu Bagi Allāh ﷻ Bag 01 QS Al-Hadid Ayat 3

 

Halaqah 24 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Nama Allāh Al-‘Alim Dan Sifat Ilmu Bagi Allāh ﷻ Bag 01 QS Al-Hadid Ayat 3

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah
🖊 Ilmiyyah.com
〰〰〰〰〰〰〰

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-24 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Setelah mendatangkan ayat yang berkaitan dengan nama Allāh Al-Hayyu yang mengandung sifat Al-Haya maka beliau mendatangkan beberapa ayat yang isinya adalah penetapan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ. Disini ada 7 ayat, surat Al-Hadid, At-Tahrim وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيم, kemudian At-Tahrim lagi, kemudian Surah Saba’, kemudian surah Al-Anam, kemudian surat Fatir, kemudian surat At-Talaq. Ini ada 7 ayat yang isinya adalah penetapan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ.

Beliau kumpulkan jadi satu supaya mudah bagi kita, dan itu yang akan beliau lakukan setelahnya, mengumpulkan beberapa ayat yang menunjukkan tentang satu sifat, kemudian mengumpulkan beberapa ayat yang lain yang menunjukkan tentang satu sifat, ada yang mutajanis (sejenis) beliau kumpulkan, tentunya untuk memudahkan kita dalam menghafal. Dan di sini beliau mendatangkan ayat dan juga mendatangkan hadits, isyarat bahwasanya yang namanya nama dan juga sifat Allāh ﷻ ini adalah tauqifiyah, kita menerima jadi dari Allāh ﷻ dan juga rasul-Nya.

Beliau mengatakan

وَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ: هُوَ الأَوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dia-lah (Allāh ﷻ) Al-Awwal. Yang dimaksud dengan Al-Awwal adalah yang tidak ada sesuatu yang mendahului Allāh ﷻ.

وَالآخِرُ

Yang dimaksud dengan Akhir, tidak ada suatu setelah Allāh ﷻ artinya Dia yang terakhir. Dia-lah yang tidak akan meninggal, Dia-lah yang tidak akan musnah, Dia-lah yang akan ada selamanya.

وَالظَّاهِرُ

Yang dimaksud dengan Dzohir adalah Yang Maha Tinggi, yang tidak ada sesuatu yang lebih tinggi daripada Allāh ﷻ

وَالْبَاطِنُ

Adalah Dzat Yang Maha Mengetahui perkara sedalam-dalamnya, sebatin-batinnya. Dan ini ditafsirkan oleh Rasulullah ﷺ di dalam sebuah hadits dan tentunya ini adalah tafsir yang paling baik, karena ketika seseorang menafsirkan Al-Qur’an yang paling baik adalah menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an kemudian menafsirkan Al-Qur’an dengan hadits Nabi ﷺ. Kalau sudah ditafsirkan oleh Nabi ﷺ, kita pegang erat-erat apa yang Beliau ﷺ sampaikan.

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dimana hadits ini menceritakan tentang adab diantara adab-adab ketika seseorang akan tidur. Disebutkan Abu Sholih memerintahkan murid-muridnya kalau salah seorang di antara mereka ingin tidur maka hendaklah mereka berbaring di atas badan bagian kanan kemudian dia mengatakan

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ اْلأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةَ وَاْلإِنْجِيْلَ وَالْفُرْقَانَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ

Ya Allāh ﷻ Engkau adalah yang awwal maka tidak ada sebelum-Mu sesuatu.

Allāh ﷻ Dia-lah yang tidak didahului dengan ketidak adaan, Allāh ﷻ dari dulu ada.

وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَىْءٌ

Dan Engkau adalah akhir, tidak ada sesuatu setelah-Mu. Artinya Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Hidup, Dia-lah yang akan ada selamanya, dan ini adalah sifat Dzatiyah bagi Allāh ﷻ. Al-Awwal di dalamnya ada sifat Al-Awwaliyyah, Al-Akhir di dalamnya ada sifat Al-Akhiriyah, berarti di sini kita menetapkan dua nama bagi Allāh ﷻ, Al-Awwal Al-Akhir, Al-Awwal mengandung sifat Awwaliyah, Al-Akhir mengandung sifat Al-Akhiriyah

وَأَنْتَ الظَّاهِرُ

Dan Engkau adalah Adz-Dzohir. Adz-Dzohir artinya adalah Tinggi atau Yang Maha Tinggi, kalimat dzuhur artinya adalah tinggi sebagaimana dalam surat Al-Kahfi Allāh ﷻ ketika menceritakan tentang ya’juj dan juga ma’juj

فَمَا ٱسْطَٰعُوٓا۟ أَن يَظْهَرُوهُ

Mereka, yaitu ya’juj dan juga ma’juj tidak mampu untuk يَظْهَرُوهُ, yaitu naik ke atas tembok raksasa atau dinding raksasa yang dibuat oleh Dzulqarnain, karena sangat tingginya tembok tadi mereka tidak bisa menaiki, naik ke sana adalah sesuatu yang sulit bagi mereka licin dan dia adalah tinggi, mereka tidak mampu untuk menaiki tembok raksasa tadi.

وَمَا ٱسْتَطَٰعُوا۟ لَهُۥ نَقْبًا

Dan mereka tidak mampu untuk melubangi, karena dia adalah terbuat dari logam yang sangat kuat mereka tidak mampu melubangi, jadi naik ke atas tidak bisa melubangi yang di bawah juga tidak bisa. Disini syahid bahwasanya makna dzuhur adalah tinggi. Adz-Dzohir artinya adalah Yang Maha tinggi.

فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَىْءٌ

Tidak ada sesuatu di atas Allāh ﷻ, Dia-lah Yang Maha Tinggi. Berarti disini kita menetapkan sifat tinggi bagi Allāh ﷻ. Kemudian

وَأَنْتَ الْبَاطِنُ

Dan Engkau adalah Al-Bathin, Engkau adalah Yang Maha Bathin. Bathin adalah dalam, وَأَنْتَ الْبَاطِنُ maksudnya Engkau adalah yang paling dalam

فَلَيْسَ دُونَكَ شَىْءٌ

Maka tidak ada yang lebih dalam dari-Mu. Maksudnya adalah Allāh ﷻ Dia-lah yang mengetahui segala sesuatu sampai yang paling dalam, yang dzhohirnya Allāh ﷻ Maha Mengetahui, batinnya (dalam-dalamnya) juga Allāh ﷻ Maha Mengetahui.
Berarti di sini di antara nama Allāh ﷻ adalah Adz-Dzhohir, sifatnya adalah Adz-Dzhuhur, diantara nama Allāh ﷻ adalah Al-Bathin dan sifatnya adalah Allahu A’lam bathiniyah, yang Dzhohir juga bisa juga sifat Dzhohiriyah atau sifat di sini sifat bathiniya. Kita terapkan bagi Allāh ﷻ karena setiap nama ini mengandung sifat.

Berarti Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Tinggi, meskipun Allāh ﷻ Maha Tinggi tidak ada yang lebih tinggi daripada Allāh ﷻ, tapi ternyata Allāh ﷻ yang paling mengetahui seluruh perkara sedalam-dalamnya. Allāh ﷻ Maha tinggi di atas dan kita berada di sini di bawah tapi yang lebih mengetahui tentang perincian apa yang ada disekitar kita sedalam-dalamnya adalah Allāh ﷻ. Jadi tidak ada di sana pertentangan antara ketinggian Allāh ﷻ dengan Maha Tahunya Allāh ﷻ, Dia-lah Adz-Dzhohir, Dia-lah Al-Bathin, Dia-lah Yang Maha Tinggi dan Dia-lah yang mengetahui batin-batin seluruh perkara sampai sedalam-dalamnya. Dia-lah yang awal dan Dia-lah yang akhir, Dia-lah yang awal yang tidak didahului dengan sesuatu dan tidak akan binasa, Dia-lah Yang Maha Hidup.

اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ

Ya Allāh ﷻ tunaikanlah, bayarkanlah utang kami

وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

Dan cukupkanlah kami dari kefaqiran, artinya cukupkanlah kami dan jauhkan kami dari kefaqiran.

Ini termasuk dzikir yang disyariatkan sebelum kita tidur, di situ ada pujian kepada Allāh ﷻ, ada bertawasul kepada Allāh ﷻ, bertawasul dengan rububiyah Allāh ﷻ kemudian juga bertawasul dengan nama-nama Allāh ﷻ, kemudian di situ ada permintaan kepada Allāh ﷻ supaya di hilangkan atau ditunaikan hutangnya dan dicukupi dari kefaqiran. Hadits ini diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ.

Maka ini adalah tafsir yang paling baik karena ditafsirkan langsung oleh nabi kita Muhammad ﷺ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_print

Halaqah 23 | Nama Dan Sifat Allāh ﷻ Yang Terkandung Di Dalam QS Al-Furqon 58 Bag 02

 

Halaqah 23 | Nama Dan Sifat Allāh ﷻ Yang Terkandung Di Dalam QS Al-Furqon 58 Bag 02

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah
🖊 Ilmiyyah.com
〰〰〰〰〰〰〰

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-23 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Kemudian tentang masalah tawakal kepada Allāh ﷻ, dan makna tawakal adalah al-i’timad yaitu menyandarkan diri. Allāh ﷻ mengatakan

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لا يَمُوت

Kalau ingin bersandar, bergantung, yaitu bergantung dalam mendatangkan manfaat dan dalam menolak mudhorat. Kita dalam kehidupan kita sehari-hari, setiap hari ingin banyak mendapatkan manfaat, sesuatu yang bermanfaat bagi kita, masalah rezeki, masalah ilmu, masalah kemudahan dalam urusan. Dan dalam kehidupan sehari-hari kita juga ingin terhindar dari berbagai mudhorat, berbagai musibah, berbagai bencana baik yang kecil tertusuk duri misalnya atau terjatuh atau sampai musibah yang besar. Bertawakal artinya adalah bergantung dan bersandar dalam mendatangkan manfaat, dalam menolak mudhorot tadi.

Bertawakal-lah kepada Al-Hayyu Yang Maha hidup, yang kehidupan-Nya adalah kehidupan yang sempurna sebagaimana sudah kita singgung ketika kita menjelaskan tentang ayat kursiy, kehidupan yang sempurna berarti disitu mengandung sifat-sifat dzatiyah yang lain. Kehidupan yang sempurna berarti ilmunya sempurna, penglihatannya sempurna, pendengarannya sempurna, iradahnya sempurna, semua sifat-sifat ladzimah yang sempurna terkandung di dalam nama Allāh ﷻ Al-Hayyu.

Bertawakal-lah kepada Dzat Yang Maha Hidup, yang sewaktu-waktu dimanapun antum ingin mendapatkan manfaat tertolak mudhorot, maka Allāh ﷻ mampu untuk menolong antum, karena Dia-lah Yang Maha Hidup, Dia tidak tidur dan Dia-lah Yang Maha Hidup, Yang Maha Mampu. Maka seorang muslim kalau ingin bertawakal, bertawakal kepada Allāh ﷻ Yang Maha Hidup, tidak boleh dia bertawakal kepada selain Allāh ﷻ, seperti yang dilakukan oleh sebagian, bertawakal kepada orang yang sudah meninggal dunia, bertawakal kepada Nabi, bertawakal kepada wali yang sudah meninggal dunia, maka bagaimana seseorang ridho bertawakal kepada dzat yang sudah meninggal dunia, sementara Allāh ﷻ mengatakan di sini

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَي

Bertawakal-lah kepada Dzat Yang Maha Hidup, bukan kepada amwats. Karena sebagian orang ketika dia ingin lulus ujian, ketika dia ingin tertolak dari corona misalnya, tawakalnya kepada wali yang sudah meninggal dunia. Allāh ﷻ mengatakan

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَي

Tawakal-lah kepada Dzat Yang Maha Hidup.

Kemudian Dzat Yang Maha Hidup tadi tidak akan meninggal dunia, berarti bertawakal dengan makhluk hidup tapi kalau dia akan meninggal dunia tidak boleh, wali yang sudah meninggal dunia tidak boleh kita bertawakal kepadanya, wali yang masih hidup juga akan meninggal berarti tidak boleh.

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لا يَمُوت

Tawakal-lah kepada Dzat Yang Maha Hidup yang tidak akan meninggal, kalau dia hidup dan akan meninggal tidak boleh, tawakal hanya kepada Allāh ﷻ. Barangsiapa yang bertawakal kepada selain Allāh ﷻ di dalam perkara yang tidak mampu melakukannya kecuali Allāh ﷻ maka dia terjerumus ke dalam syirik yang besar. Dan sebagian mengatakan kalau dia bertawakal kepada selain Allāh ﷻ di dalam perkara yang dia memiliki kemampuan atau diberikan kemampuan oleh Allāh ﷻ, seperti misalnya orang yang bertawakal kepada majikannya misalnya karena dia punya uang, punya harta untuk membayar akhirnya dia bekerja di situ, tapi dia memiliki ketergantungan kepada majikan tadi, maka sebagian mengatakan ini masuk dalam syirik yang kecil, karena di situ makhluk tadi diberikan Allāh ﷻ kemampuan harta.

Tapi kalau dalam perkara yang tidak mampu melakukannya kecuali Allāh ﷻ, seperti orang yang bertawakal kepada orang yang meninggal dunia jelas karena dia tidak mampu melakukan apa-apa atau bertawakal kepada makhluk dalam menurunkan hujan, berarti di sini bertawakal kepada makhluk dalam perkara yang tidak mampu melakukannya kecuali Allāh ﷻ, hukumnya syirik besar.
Disana ada taukil yaitu mewakilkan kepada orang lain tentang sesuatu, misalnya mewakilkan orang lain untuk melamarkan atau mewakilkan orang lain untuk membeli sesuatu misalnya, ini namanya taukil, yang seperti ini tidak masalah seseorang mewakilkan ini bukan tawakal. Tawakal artinya adalah bergantung, bersandar, dalam mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot kepada yang lain.

Maka disini Allāh ﷻ menyuruh kita untuk bertawakal, bersandar dan bergantung hanya kepada Allāh ﷻ dalam urusan kita seluruhnya, dan orang yang bertawakal hanya kepada Allāh ﷻ memiliki keuntungan yang besar, pahala yang besar, disamping dia adalah ibadah, karena Allāh ﷻ memerintahkan di sini dan Allāh ﷻ mengatakan dalam ayat yang lain

وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ
[Al-Ma’idah:23]

Dan hanya kepada Allāh ﷻ hendaklah kalian bertawakal kalau kalian benar-benar beriman.

Disamping kita mendapatkan pahala ibadah dari bertawakal kepada Allāh ﷻ, maka kita akan ditolong dan dicukupi oleh Allah. Allāh ﷻ mengatakan

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
[At-Talaq: 3]

Barangsiapa yang bertawakal kepada Allāh ﷻ, yaitu bersandar bergantung kepada Allāh ﷻ, ini dalam seluruh perkara, antum bertawakal dalam masalah rezeki hanya kepada Allāh ﷻ, yakin bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang mendatangkan rizq dan Dia-lah yang menahan rizq, bukan bergantung kepada kecerdasan kita, pengalaman kita dalam bisnis misalnya, tapi kita berusaha dan berdagang atau berusaha apa saja untuk mendapatkan rezeki yang halal dan di dalam hati kita tawakal kita ketergantungan kita kuat kepada Allāh ﷻ. Maka

فَهُوَ حَسْبُهُۥ

Allāh ﷻ yang akan mencukupi, dan kalau Allāh ﷻ Dia-lah yang mencukupi, siapa yang bisa menahan dan juga menolak kehendak Allāh ﷻ. Kalau kita bertawakal dalam masalah rezeki yaitu mengambil sebab, mungkin kita punya gerobak, kita mungkin punya barang dagangan, yang dilihat oleh orang barang dagangan yang sepele, tidak mendatangkan keuntungan yang besar misalnya, tapi dalam hati kita ada tawakal kepada Allāh ﷻ maka Allāh ﷻ akan memberikan kecukupan kepada kita, sebagaimana dalam hadits ketika Nabi ﷺ menyebutkan tentang orang yang bertawakal hanya kepada Allāh ﷻ

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ

Kalau kalian benar-benar bertawakal kepada Allāh ﷻ dengan sebenar-benar tawakal. Bukan hanya sekedar ucapan, dalam hatinya benar-benar dia bertawakal kepada Allāh ﷻ, seperti tawakalnya para petani, bagaimana mereka bertawakal kepada Allāh ﷻ, mereka menanam, menaruh benih, kemudian setelah itu mereka menunggu apa yang Allāh ﷻ lakukan, hujan, menunggu Rahmat dari Allāh ﷻ dan juga karunia dari Allāh ﷻ, dan menunggu karunia dari Allāh ﷻ bagaimana Allāh ﷻ menjaga tanaman-tanaman tersebut dari berbagai hal yang merusaknya. Kalau kalian benar-benar tawakal kepada Allāh ﷻ maka

لَرَزَقَكُمْ

Allāh ﷻ akan memberikan rezeki kepada kalian

كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ

Sebagaimana diberikan rezeki tersebut kepada burung. Bagaimana burung mendapatkan rezeki dari Allāh ﷻ?

تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Pagi-pagi mereka keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan sudah penuh perutnya dengan makanan. Demikian Allāh ﷻ menjanjikan bagi orang-orang yang benar-benar bertawakal kepada Allāh ﷻ, jangan kita bertawakal kepada diri sendiri atau kepada pekerjaan kita bertawakal-lah hanya kepada Allāh ﷻ.

Dan apa yang dimaksud dengan tawakal di sini, apakah seseorang hanya bergantung dan bersandar dalam hatinya memiliki keyakinan dalam hatinya kemudian dia duduk manis tidak bekerja tidak berusaha, bukan itu yang dimaksud dengan tawakal. Tawakal yang sebenarnya adalah dengan seseorang dalam hatinya ada keyakinan yang kuat dan secara dhohir dia mengambil sebab sebagaimana yang Allāh ﷻ dan rasul-Nya perintahkan. Dia bekerja, dia berusaha, dia keluar dari rumahnya dan apa yang ada dalam hatinya adalah keyakinan yang kuat Allāh ﷻ yang akan memberikan rezeki.

Inilah yang dilakukan oleh burung, bagaimana burung bertawakal kepada Allāh ﷻ, apakah mereka diam di sarangnya dan menunggu ada beras yang terbang kemudian sampai ke sarangnya, tidak. Mereka meninggalkan sarangnya terbang dari pohon ke pohon dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mencari rezeki dan di dalam diri mereka keyakinan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang memberikan rezeki.

Demikian yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim, sehingga tidak heran kalau ada sebagian orang yang beriman, orang yang sholeh, mungkin kita lihat dia jualan di pinggir jalan perkara-perkara yang remeh, kalau kita pikir dapat berapa dia dalam sehari, seandainya itu laku semua berapa untungnya, tapi dia ada tawakal kepada Allāh ﷻ, dengannya Allāh ﷻ mencukupi dirinya dan juga keluarganya. Dan ada sebagian orang yang dia memiliki harta yang luar biasa tapi tidak pernah kenyang dan tidak pernah puas dengan apa yang dia miliki, bahkan bertambah kehidupannya ini dari kesengsaraan ke kesengsaraan yang lain. Jadi yang namanya tawakal harus disertai dengan kita mengambil sebab.

Sehingga di dalam hadits yang lain Nabi ﷺ ketika ditanya oleh sebagian sahabah tentang dia memiliki unta dan dia meninggalkan unta tersebut dalam keadaan tidak diikat, hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani. Anas Bin Malik mengatakan

قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ

Laki-laki ini mengatakan kepada Rasulullah ﷺ, Ya Rasulullah ﷺ, aku mengikatnya kemudian aku bertawakal, yaitu aku mengikatnya setelah itu aku bergantung dan bersandar kepada Allāh ﷻ, atau aku melepaskan dia begitu saja kemudian aku bergantung kepada Allāh ﷻ.

قَالَ اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

Maka Nabi ﷺ mengatakan اعْقِلْهَا ikatlah kemudian bertawakal-lah kepada Allāh ﷻ. Jadi kita ikat sesuai dengan kemampuan kita, kita ikat sekencang mungkin setelah itu jangan kita bertawakal kepada diri sendiri, kita serahkan kepada Allāh ﷻ, Allāh ﷻ yang akan menjaganya. Ini dalam masalah rezeki

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Demikian pula dalam masalah ilmu, dalam menuntut ilmu kita pun harus bertawakal hanya kepada Allāh ﷻ, ilmu adalah sesuatu yang sangat bermanfaat bagi kita, maka dalam mendatangkan manfaat ini kita harus bertawakal dan bersandar, bergantung hanya kepada Allāh ﷻ. Jangan kita bergantung kepada diri kita sendiri, kita ingin menjadi seorang yang berilmu, ingin mendapatkan ilmu, ingin masuk ilmu tersebut kepada diri kita maka bertawakal-lah hanya kepada Allāh ﷻ

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allāh ﷻ maka Dia-lah Allāh ﷻ yang akan memberikan kecukupan.
Allāh ﷻ yang akan menolong kita, memudahkan kita untuk mendapatkan ilmu-ilmu tersebut, memudahkan kita untuk memahami, memudahkan kita untuk membaca buku yang bermanfaat, memiliki teman-teman yang sholihin, memiliki guru yang bisa membimbing dalam menuntut ilmu tersebut.

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dalam seluruh perkara kita bertawakal kepada Allāh ﷻ, dalam ibadah kita, dalam menuntut ilmu, dalam dunia kita, dalam mendidik anak-anak juga demikian kita bertawakal hanya kepada Allāh ﷻ dan kita berusaha.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_print

Halaqah 27 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Nama Allāh Al-‘Alim Dan Sifat Ilmu Bagi Allāh ﷻ Bag 02 QS Al-Anam 59, Al-Fathir 11, dan At-Thalaq 12

  Halaqah 27 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Nama Allāh Al-‘Alim Dan Sifat Ilmu Bagi Allāh ﷻ Bag 02 QS Al-Anam 59, Al-Fathir 11, ...